Kamis, 23 Juni 2011

menciptakan trotoar yang bersahabat untuk pejalan kaki

kota-kota besar di indonesia, seperti jakarta, surabaya, makassar, medan, denpasar dll pada umumnya memiliki jalan raya yang kurang bersahabat dengan pejalan kaki. jalan untuk kendaraan bermotor dibuat selebar mungkin, akan tetapi jalan untuk pejalan kaki dibuat sekecil mungkin, terkadang hanya selebar 60 cm saja, sehingga sangat tidak nyaman untuk dilalui. belum lagi jika dipotong untuk pohon dan penghijauan, semakin habis ruang yang ada untuk pejalan kaki. maka tak heran jika pejalan kaki di Indonesia kurang dihargai, sehingga banyak kecelakaan lalu lintas yang terjadi hanya karena pejalan kaki yang berjalan tidak pada tempatnya (karena memang ketiadaan tempat)

gambar 1 : kondisi ideal sebuah jalan
seyogyanya sebuah jalan, terdiri dari badan jalan, bahu jalan, saluran kota, baru GSB dst. pada bagian bahu jalan ini seringkali dipangkas untuk pelebaran jalan. karena pemerintah kota yang seringkali berorientasi pada kendaraan, bukan pejalan kaki. pada gambar di samping, contoh penataan jalan yang baik, dimana setelah jalan aspal adalah jalur hijau (rumput, tanaman perdu dsb.) lalu jalur pejalan kaki yang lebar dan nyaman, kemudian jalur hijau lagi (pohon, tanaman peneduh dsb.) baru masuk ke area bangunan.
jalur pejalan kaki yang lebar, teduh dan nyaman, sangat mempengaruhi kemauan penduduk kota untuk berjalan kaki dan memanfaatkan ruang terbuka hijau kota sebagai tempat bersosialisasi. sejauh ini, pepohonan seringkali mepet dengan jalan, sehingga dahan-dahan pohon peneduh masuk ke area badan jalan dan mengganggu kendaraan yang sedang melaju. bahkan juga dapat membahayakan pengguna jalan saat musim hujan tiba, karena rawan roboh ke jalan, karena amat mepetnya dengan jalan aspal.
di beberapa kota besar di negara maju, seperti Tokyo, Seoul, Singapura, London dll, penataan dan perawatan jalan ini sudah terlaksana dengan baik dan benar, sehingga para pejalan kaki pun nyaman saat melaluinya.

gambar 2 : ilustrasi trotoar siang hari
berbicara tentang area trotoar, biasanya terdapat beberapa perabotan, seperti tempat duduk, lampu penerangan, peneduhan, dsb.
beberapa perabot tersebut terkadang kurang menarik, sehingga membuat orang enggan untuk menggunakannya. dengan sedikit sentuhan desain, sebenarnya beberapa perabot tersebut bisa dikombinasikan sehingga lebih menarik, lebih menghemat ruang trotoar yang terpakai, serta lebih rapi.


pada gambar di bawah misalnya, ada contoh desain perabot trotoar dengan fungsi sebagai lampu penerangan, payung peneduh, serta tempat duduk untuk pejalan kaki.
pada saat pagi hingga sore hari, payung bisa dibuka untuk peneduhan dari sinar matahari.
gambar 3 : ilustrasi trotoar siang hari
saat sore hingga pagi hari, payung bisa ditutup (kecuali saat hujan bisa dibuka untuk peneduhan), sehingga bisa berfungsi sebagai kolom-kolom lampu penyearah jalan, selain sebagai tempat duduk.

semua bahan yang digunakan adalah dari bahan material yang ramah lingkungan sehingga mendukung juga gerakan go green terhadap lingkungan sekitarnya.


gambar 4 : detail desain perabot trotoar

gambar 5 : ilustrasi trotoar malam hari

gambar 7 : ilustrasi trotoar malam hari
kota yang baik adalah kota yang berorientasi pada pejalan kaki, bukan perkembangan jalan dan kendaraan bermotor. karena semakin banyak kendaraan bermotor, semakin kotor langit kota kita, semakin tak nyaman untuk dihuni. maka dari itu, mari kita budayakan berjalan kaki, bersepeda, dan memanfaatkan angkutan umum dengan sebaik-baiknya, untuk kebaikan generasi yang akan datang.